Home » » AIR ZAMZAM DAN ABDUL MUTHOLIB

AIR ZAMZAM DAN ABDUL MUTHOLIB

Written By Unknown on Minggu, 27 Desember 2015 | Minggu, Desember 27, 2015



Assalamualaikum Wr. Wb
Salam hangat kawan, dah lama bwanget gak ng blog nih,. Yups…. Karena masih aktif dipondok.
Udah lah langsung aja, gak bias basa basi emang, .,. haha
Ni saya punya sedikit cerita untuk dibagi.
AIR ZAMZAM DAN ABDUL MUTHOLIB
Sahabat Ali RA pernah bercerita prihal awal mula adanya air zam-zam
Suatu saat, Abdul mutholib kakek Nabi Muhammad SAW sedang tidur di hijr (kamar), dalam tidurnya beliau bermimpi didatangi seseorang yang tidak pernah beliau kenal. orang  tadi berkata :
Wahai Abdul Mutholib, galilah At Tibah..!!!
Dengan raut muka bingung, Abdul Mutholib menjawab:  At Tibah? Apa itu ?
Tanpa menjawab kebingungan dari Abdul Mutholib, orang tadi tiba-tiba menghilang dari pandangan beliau hingga beliau terjaga dari tidurnya.
Dihari selanjutnya abdul mutholib seperti biasa tidur di hijr (kamar) dan lagi-lagi orang yg dikemiren hari membuat bingung Abdul Mutholib datang dan berkata :
Wahai abdul mutholib, galilah barroh
Sekali lagi, abdul mutholib dibuat bingung oleh perintah orang tersebut,
kemudian beliau bertanya: Wahai engkau, apa itu Barroh??
Lagi, tanpa menjawab pertanyaan abdul mutholib, orang tadi menghiang dan membiarkan Abdul Mutholib dengan mimpinya.
Seperti biasa, dikeesokan harinya, abdul mutholib kembali tidur di hijr (kamar), dan kali ini beliau berharap menadapatkan kejelasan dari mimpi  yang beliau dapat tempo hari. Dan banar saja, orang yg sama dengan perintah yang sama datang lagi kedalam mimpi Abdul Mutholib. Kali ini orang tersebut memerintahan agar Abdul Mutholib menggali Madhmunah. dan lagi-lagi abdul mutholib bingung dengan perintah tersebut. Beliau berkata,
wahai engkau, tolong jelaskan apa maksud kamu dengan madhmunah!!
Untuk kesekian kalinya, orang tersebut meninggalkan abdul muthoib dengan kebingungan.
Abdul mutholib semakin penasaran dengan prihal yang beliau dapat dalam mimpi di hari-hari kemarIn. Beliau memiliki dugaan kuat bahwa mimpi tersebut pasti mengindikasikan sesuatu yg besar di kemudian hari.
Dihari ke empat semenjak mimpi tersebut, beliau kembali masuk dan tidur di hijr (kamar), dan dihari ini beliau benar-benar berkeinginan untuk mendapat kejelasan dari mimpi yg sangat mengganggu hari-hari beliau.
Kembali, orang yang selama empat hari ini mendatangi beliau dalam mimpi muncul lagi. Dia lalu berkata pada Abdul Mutholib:
Wahai Abdul Mutholib, galilah kembali ZAM ZAM
Dengan raut bingung, beliau bertanya, wahai kamu, jelaskan padaku apa itu zam zam ?
Dan benar saja, kali ini orang tersebut tidak langsung meninggalkan abdul mutholib. Dengan lugas orang tersebut menjelaskan:
“Itu adalah sumur yang tidak pernah berkurang airnya. Air yang akan digunakan untuk member minum para jama’ah haji, air yang disekitarnya terdapat darah dan kotoran, air yang berada disekitar sarang burung gagak dan air yang disekitar sarang semut”.
Setelah jelas dengen penjelasan orang tersebut dan Abdul Mutholib kembali terbangun, beliau segera mencari tempat yang telah ditunjukan hingga akhirnya beliau menemukannya telah tersumbat.
Dengan dibantu satu satunya putra beliau Haris bin Abdul Mutholib beliau menggali lagi sumur zam zam sebagaimana instruksi dari impian beliau, dan saat telah tampak air yg ada didalam sumur tersebut, beliau bertakbir dengan sangat hikmat. orang-orang qurais disekitar beliau akhirnya mengerumuni Abdul Mutholib dan putra beliau.
Orang qurays berkata kepada beliau dengan nada keras:
“Hai abdul mutholib, sumur ini milik ayah kita isma’il. Pastinya kami juga punya hak atas sumur ini”.
Dengan nada tegas, abdul mutholib menjawab:
“Tidak, sumur ini adalah temuanku, hanya aku dan keluargaku yg berhak atas sumur ini”.
“Wahai Abdul Mutholib, berlaku adil lah, kita tak akan membiarkanmu memanfaatkan sumur ini kecuali kami akan memusuhimu”. Hardik kaum qurais.
Dengan sangat arif, Abdul Mutholib berkata :
“ya sudah, begini saja. Mari kita datangi orang yang kalian anggap adil untuk menyelesaikan permasalah kita ini”.
Ahirnya mereka sepakat untuk mendatangi seorang kahin (juru putus) dari bani sa’d bin hudaim.

Syahdan. Diperjalanan mereka menuju kahin (juru putus) dari bani sa’d bin hudaim, sumua rombongan yang ikut dalam perjalanan tersebut tanpa terkecuali rombongan Abdul Mutholib sendiri  merasa sangat haus sekali hingga diantara mereka ada yg meninggal kehausan kerena bekal air minum yg dibawa tidak mencukupi untuk perjalanan.
Karena tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan keadaan seperti itu, mereka memutuskan untuk singgah di suatu tempat.

Ditengah keadaan rombongan kaum qurays  yg memprihatinkan, Mereka berinisisatif membuat galian tanah berharap akan muncul mata air sekedar untuk melepaskan dahaga mereka, namun nihil. Tak satupun dari rombongan qurays yg berhasil mendapatkan apa yg mereka cari.

Sedang rombongan yg dibawa oleh Abdul Mutholib juga merasakan kehausan yang sangat amat berat, ditengah kehausan mereka beliau Abdul Mutholib berseru : wahai kalian semua, perjalanan kita ini bukanlah untuk menjemput kematian kita, semoga Allah memberikan kita rizki (air minum) di lain tempat, ayo lanjutkan perjalanan kita. Berdirilah kalian semua …!!!

Saat unta-unta tunggangan mereka berdiri, tiba-tiba muncul lah mata air yang amat sangat banyak dari tempat singgahan tunggangan mereka, tak ayal mereka kegirangan dan bertakbir karena hal tersebut. Tanpa fikir panjang, mereka segera melepaskan dahaga yg sedari tadi telah melilit tenggorokan dan juga tak lupa mereka memenuhi semua kantung air untuk perjalanan selanjutnya.

Abdul mutholib setelah bertahmid dan bertakbir kepada Allah, beliau berseru kepada rombongan kaum qurays: Wahai kalian semua, kemari dan minumlah air ini, ini adalah nikmat dari Allah SWT.
Kaum Qurays yg sedari tadi menahan dahaga langsung saja menghampiri dan minum dari mata air tersebut, Setelah merasa cukup, pemimpin rombongan kaum qurays berkata kepada Abdul Mutholib :

“Wahai abdul mutholib, permasalahan kita telah usai. Dan kamu memang benar, Zam-zam adalah hak kamu dan keluargamu. kami tidak akan mengganggu lagi, sesungguhnya Dzat yg telah memberikan minum untuk kita di padang pasir ini adalah dzat yang memberikan hak zam zam untuk kamu. Mari kita kembali ke tanah air kita”
Begitulah, sekelumit kisah tentang air zam-zam.


0 komentar :

Posting Komentar