Assalamualaikum Wr. Wb
Salam hangat kawan, dah lama bwanget gak ng blog nih,.
Yups…. Karena masih aktif dipondok.
Udah lah langsung aja, gak bias basa basi emang, .,. haha
Ni saya punya sedikit cerita untuk dibagi.
AIR ZAMZAM DAN ABDUL
MUTHOLIB
Sahabat Ali RA pernah bercerita prihal awal mula adanya air
zam-zam
Suatu saat, Abdul mutholib kakek Nabi
Muhammad SAW sedang tidur di hijr (kamar), dalam tidurnya beliau bermimpi
didatangi seseorang yang tidak pernah beliau kenal. orang tadi berkata :
Wahai Abdul Mutholib, galilah At
Tibah..!!!
Dengan raut muka bingung, Abdul Mutholib
menjawab: At Tibah? Apa itu ?
Tanpa menjawab kebingungan dari Abdul
Mutholib, orang tadi tiba-tiba menghilang dari pandangan beliau hingga beliau
terjaga dari tidurnya.
Dihari selanjutnya abdul mutholib seperti biasa tidur di
hijr (kamar) dan lagi-lagi orang yg dikemiren hari membuat bingung Abdul Mutholib
datang dan berkata :
Wahai abdul mutholib, galilah
barroh
Sekali lagi, abdul mutholib
dibuat bingung oleh perintah orang tersebut,
kemudian beliau bertanya: Wahai
engkau, apa itu Barroh??
Lagi, tanpa menjawab pertanyaan
abdul mutholib, orang tadi menghiang dan membiarkan Abdul Mutholib dengan
mimpinya.
Seperti biasa,
dikeesokan harinya, abdul mutholib kembali tidur di hijr (kamar), dan kali ini
beliau berharap menadapatkan kejelasan dari mimpi yang beliau dapat tempo hari. Dan banar saja,
orang yg sama dengan perintah yang sama datang lagi kedalam mimpi Abdul
Mutholib. Kali ini orang tersebut memerintahan agar Abdul Mutholib menggali Madhmunah.
dan lagi-lagi abdul mutholib bingung dengan perintah tersebut. Beliau berkata,
wahai engkau, tolong jelaskan apa
maksud kamu dengan madhmunah!!
Untuk kesekian kalinya, orang tersebut meninggalkan abdul
muthoib dengan kebingungan.
Abdul mutholib
semakin penasaran dengan prihal yang beliau dapat dalam mimpi di hari-hari
kemarIn. Beliau memiliki dugaan kuat bahwa mimpi tersebut pasti mengindikasikan
sesuatu yg besar di kemudian hari.
Dihari ke
empat semenjak mimpi tersebut, beliau kembali masuk dan tidur di hijr (kamar),
dan dihari ini beliau benar-benar berkeinginan untuk mendapat kejelasan dari
mimpi yg sangat mengganggu hari-hari beliau.
Kembali, orang yang selama empat
hari ini mendatangi beliau dalam mimpi muncul lagi. Dia lalu berkata pada Abdul
Mutholib:
Wahai Abdul Mutholib, galilah
kembali ZAM ZAM
Dengan raut bingung, beliau
bertanya, wahai kamu, jelaskan padaku apa itu zam zam ?
Dan benar saja, kali ini orang tersebut tidak langsung
meninggalkan abdul mutholib. Dengan lugas orang tersebut menjelaskan:
“Itu adalah sumur yang tidak
pernah berkurang airnya. Air yang akan digunakan untuk member minum para
jama’ah haji, air yang disekitarnya terdapat darah dan kotoran, air yang berada
disekitar sarang burung gagak dan air yang disekitar sarang semut”.
Setelah jelas
dengen penjelasan orang tersebut dan Abdul Mutholib kembali terbangun, beliau
segera mencari tempat yang telah ditunjukan hingga akhirnya beliau menemukannya
telah tersumbat.
Dengan dibantu
satu satunya putra beliau Haris bin Abdul Mutholib beliau menggali lagi sumur
zam zam sebagaimana instruksi dari impian beliau, dan saat telah tampak air yg
ada didalam sumur tersebut, beliau bertakbir dengan sangat hikmat. orang-orang
qurais disekitar beliau akhirnya mengerumuni Abdul Mutholib dan putra beliau.
Orang qurays berkata kepada beliau
dengan nada keras:
“Hai abdul
mutholib, sumur ini milik ayah kita isma’il. Pastinya kami juga punya hak atas
sumur ini”.
Dengan nada tegas, abdul mutholib
menjawab:
“Tidak, sumur
ini adalah temuanku, hanya aku dan keluargaku yg berhak atas sumur ini”.
“Wahai Abdul
Mutholib, berlaku adil lah, kita tak akan membiarkanmu memanfaatkan sumur ini
kecuali kami akan memusuhimu”. Hardik kaum qurais.
Dengan sangat arif, Abdul
Mutholib berkata :
“ya sudah,
begini saja. Mari kita datangi orang yang kalian anggap adil untuk
menyelesaikan permasalah kita ini”.
Ahirnya mereka sepakat untuk
mendatangi seorang kahin (juru putus) dari bani sa’d bin hudaim.
Syahdan. Diperjalanan mereka menuju kahin (juru putus) dari bani sa’d bin hudaim, sumua rombongan yang ikut dalam perjalanan tersebut tanpa terkecuali rombongan Abdul Mutholib sendiri merasa sangat haus sekali hingga diantara mereka ada yg meninggal kehausan kerena bekal air minum yg dibawa tidak mencukupi untuk perjalanan.
Karena tidak mungkin melanjutkan
perjalanan dengan keadaan seperti itu, mereka memutuskan untuk singgah di suatu
tempat.
Ditengah keadaan rombongan kaum qurays yg memprihatinkan, Mereka berinisisatif membuat galian tanah berharap akan muncul mata air sekedar untuk melepaskan dahaga mereka, namun nihil. Tak satupun dari rombongan qurays yg berhasil mendapatkan apa yg mereka cari.
Sedang rombongan yg dibawa oleh Abdul Mutholib juga merasakan kehausan yang sangat amat berat, ditengah kehausan mereka beliau Abdul Mutholib berseru : wahai kalian semua, perjalanan kita ini bukanlah untuk menjemput kematian kita, semoga Allah memberikan kita rizki (air minum) di lain tempat, ayo lanjutkan perjalanan kita. Berdirilah kalian semua …!!!
Saat unta-unta tunggangan mereka berdiri, tiba-tiba muncul lah mata air yang amat sangat banyak dari tempat singgahan tunggangan mereka, tak ayal mereka kegirangan dan bertakbir karena hal tersebut. Tanpa fikir panjang, mereka segera melepaskan dahaga yg sedari tadi telah melilit tenggorokan dan juga tak lupa mereka memenuhi semua kantung air untuk perjalanan selanjutnya.
Abdul mutholib setelah bertahmid dan bertakbir kepada Allah, beliau berseru kepada rombongan kaum qurays: Wahai kalian semua, kemari dan minumlah air ini, ini adalah nikmat dari Allah SWT.
Kaum Qurays yg sedari tadi
menahan dahaga langsung saja menghampiri dan minum dari mata air tersebut, Setelah
merasa cukup, pemimpin rombongan kaum qurays berkata kepada Abdul Mutholib :
“Wahai abdul mutholib, permasalahan kita telah usai. Dan kamu memang benar, Zam-zam adalah hak kamu dan keluargamu. kami tidak akan mengganggu lagi, sesungguhnya Dzat yg telah memberikan minum untuk kita di padang pasir ini adalah dzat yang memberikan hak zam zam untuk kamu. Mari kita kembali ke tanah air kita”
Begitulah, sekelumit kisah
tentang air zam-zam.

0 komentar :
Posting Komentar