
Abu Hasan Ali Bin Isma’il Bin Abi Basyar Ishaq Bin Salim Bin Isma’il Bin Abdillah Bin Musa Bin Bilal Bin Abi Burdah Bin Abi Musa Al As’ari. Beliau lahir di basroh (irak) pada tahun 260 H. atau 55 tahun setelah wafatnya imam Syafi’i. wafat beliau juga di basroh (irak) pada tahun 324 H pada usia 64 tahun.
Pada waktu kecil, beliau berguru pada seorang Mu'tazilah terkenal, yaitu Al-Jubbai (pendiri faham Muktazilah sekaligus ayah angkat beliau), dari Al-Juba'i beliau mempelajari ajaran-ajaran Muktazilah dan mendalaminya. Aliran ini diikuti terus ampai berusia 40 tahun, dan tidak sedikit dari hidup beliau digunakan untuk mengarang buku-buku kemuktazilahan. namun pada tahun 912 beliau mengumumkan keluar dari faham Mu'tazilah, dan mendirikan teologi baru yang kemudian dikenal sebagai Asy'ariah.Ketika mencapai usia 40 tahun beliau bersembunyi di rumah selama 15 hari, kemudian pergi ke Masjid Basrah. Di depan banyak orang beliau menyatakan bahwa beliau mula-mula mengatakan Al-Qur'an adalah makhluk; Allah SWT tidak dapat dilihat mata kepala, perbuatan buruk adalah manusia sendiri yang memperbuatnya (semua pendapat aliran Muktazilah). Kemudian beliau mengatakan: "saya tidak lagi memegangi pendapat-pendapat tersebut; saya harus menolak paham-paham orang Muktazilah dan menunjukkan keburukan-keburukan dan kelemahan-kelemahanya".
Imam Al As’ari cenderung kepada pemikiran Aqidah Ahlussunnah Wal jama'ah dan telah mengembangkan ajaran seperti sifat Allah 20. Banyak tokoh pemikir Islam yang mendukung pemikiran-pemikiran dari imam ini, salah satunya yang terkenal adalah "Sang hujjatul Islam" Imam Al-Ghazali, terutama di bidang ilmu kalam/ilmu tauhid/ushuludin. Di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, banyak yang mengikuti paham imam Al As’ari yang dipadukan dengan paham ilmu Tauhid yang dikembangkan oleh Imam Abu Manshur Al-Maturidi. Ini terlihat dari metode pengenalan sifat-sifat Allah yang terkenal dengan nama "20 sifat Allah", yang banyak diajarkan di pesantren-pesantren yang berbasiskan Ahlussunnah Wal Jama'ah dan Nahdhatul Ulama (NU) khususnya, dan sekolah-sekolah formal pada umumnya.
BEBERAPA KARYA IMAM AS'ARI
Imam Al As’ari meninggalkan beberapa karya ilmiah kurang lebih berjumlah 90 buah dalam berbagai fan, dan dari sekian banyalk karya beliau terdapat tiga karya Kitab beliau yang terkenal :
Maqalat al-Islamiyyin
Al-Ibanah 'an Ushulid Diniyah
Al-Luma
Kitab-kitab lainnya:
Idhāh al-Burhān fi ar-Raddi 'ala az-Zaighi wa ath-Thughyān
Tafsir al-Qur'ān (Hāfil al-Jāmi')
Ar-Radd 'ala Ibni ar-Rāwandi fi ash-Shifāt wa al-Qur'ān
Al-Fushul fi ar-Radd 'ala al-Mulhidin wa al-Khārijin 'an al-Millah
Al-Qāmi' likitāb al-Khālidi fi al-Irādah
Kitāb al-Ijtihād fi al-Ahkām
Kitāb al-Akhbār wa Tashhihihā
Kitāb al-Idrāk fi Fununi min Lathif al-Kalām
Kitāb al-Imāmah
At-Tabyin 'an Ushuli ad-Din
Asy-Syarhu wa at-Tafshil fi ar-Raddi 'ala Ahli al-Ifki wa at-Tadhlil
Al-'Amdu fi ar-Ru'yah
Kitāb al-Maujiz
Kitāb fi Khalqi al-A'māl
Kitāb ash-Shifāt
Kitāb ar-Radd 'ala al-Mujassimah
An-Naqdh 'ala al-Jubbā'i
An-Naqdh 'ala al-Balkhi
Jumal Maqālāt al-Mulhidin
Kitāb fi ash-Shifāt
Adab al-Jidal
Al-Funan fi ar-Raddhi 'ala al-Mulhidin
An-Nawādir fi Daqaiqi al-Kalām
Jawāz Ru'yat Allah bil Abshār
Risālah ila Ahli Ats-Tsughar]
0 komentar :
Posting Komentar